Kamis, 12 Februari 2009

Guru Honor di Merangin: Rela Digaji 3 Keping Kerupuk




 JIKA ditelusuri lebih jauh persoalan pendidikan di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, barangkali yang ke luar sebagian hanya potret buram. Ada dua persoalan krusial yang pantas diungkap permukaan. Yakni kehidupan para guru honorer dan hancurnya sarana dan prasarana pendidikan khususnya di tingkat Sekolah Dasar (SD) di Merangin. Dua-duanya sungguh memilukan.

 “Saya sudah dua tahun lebih mengabdi sebagai guru honor Ah... saya malu menceritakan berapa besar honor yang diterima karena kalau diukur dari kebutuhan, jelas sangat tidak pantas. Tetapi, bagaimana lagi karena mengajar sudah saya pilih sebagai jalan hidup,” kata Siti, guru honorer di SD Negeri 278 Bangko Tinggi, persis di kota Bangko ibu kota Kabupaten Merangin.

 Berapa honor yang diterima Siti sebulan, sampai ia malu mengungkapkannya? Ternyata wanita lulusan D.2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Jambi, hanya menerima honor dari Komite Sekolah sebesar Rp 100.000 per bulan. Jika dibagi per hari, honor sebanyak itu barangkali hanya cukup untuk membeli tiga keping kerupuk udang. 

Padahal, kehidupan sebagai guru honor sudah dilakoni Siti selama dua tahun. Parahnya lagi, wanita lajang ini mengaku mengajar selama 24 jam sehari. “Kalau dianggap tidak pantas, ya itu terserah penilaian orang luar saja. Yang jelas, saya sudah mengajar dua tahun lebih dan gaji yang saya terima hanya segitu,” ujar Siti.

Lihat pula kehidupan Yadi, seorang guru honor di Desa Ujung Bumi, Kecamatan Sei Manau, sebuah daerah pedalaman di Merangin. Sama dengan Siti, juga menerima honor komite sebesar Rp 100.000 sebulan. Untuk menyambung hidup dan menambah penghasilan, Yadi tiap pagi buta sebelum mengajar di SD terpaksa menyadap karet. Beruntung, ia kebagian jatah satu kaplingan kebun karet dari orang tuanya.

“Dengan harga karet mentah sebesar Rp 8.000 per kilogram, hidup saya sedikit bisa lebih nyaman. Saya bisa jual karet ke pedagang pengumpul sekitar 30 kg per minggu. Paling tidak dari menyadap karet ini penghasilan bersih sebagai tambahan rata-rata Rp 200.000 per minggu. Honor komite itu hanya sekedar untuk pemacu semangat saja karena, ada penghasilan tetap yang saya harap dan tunggu tiap awal bulan,” kata Yadi. 

Bagi yang kurang perduli pendidikan, nasib seperti yang dialami Siti dan Yadi, mungkin hanya dianggap lumrah. Paling tidak hanya akan ke luar komentar; “salah sendiri, ngapaian mau mengajar”. Akan tetapi itu barangkali sangat tepat untuk menggambarkan betapa persoalan pendidikan di Kabupaten Merangin dan juga sebagian besar daerah pedalaman di Indonesia, sangat-amat memprihatinkan.

Guru-guru, terutama yang masih honor dan golongan rendah yang sangat dibebani tugas untuk mencerdaskan putera-puteri kita, ternyata masih dibelit persoalan krusial. Yakni, menerima imbalan sangat tidak layak. Padahal, di satu sisi para orang tua siswa selalu menuntut lebih. Jika siswa tinggal kelas atau tidak lulus ujian nasional (UN), gurulah yang disalahkan. Memang sangat tidak manusiawi, jika dikaitkan dengan imbalan yang diterima para guru.

Tetapi, itulah sebuah fakta nyata dunia pendidikan di Merangin. Dalam kasus Siti misalnya, wanita ini saban pagi terpaksa harus naik ojek sekolah dengan sewa Rp 3.000 sekali jalan. Untuk transportasi pulang mengajar, ia masih sedikit lega karena biasanya ada guru lain yang mau membonceng. Namun, kalau sehari Siti harus naik ojek sekali, berarti ia harus mengeluarkan ongkos ojek paling sedikit Rp 75.000 sebulan. Artinya, honor komite yang diterimanya hanya tersisa Rp 25.000, itu pun dengan perhitungan ia harus “puasa” tidak jajan dan makan siang, kendati harus mengajar sampai pukul 13.30 tiap hari.

Jika dihitung benar-benar, kata para guru, para guru honor di Merangin mungkin lebih banyak nombok ke sekolah. Karena agar bisa mengajar tepat waktu selama enam hari seminggu, mereka harus mengeluarkan uang dari kantong sendiri untuk transportasi. Sebab, rata-rata sekolah tempat mengajar jauh dari tempat tinggal. 

“Barangkali, sangat masuk akal kalau beberapa waktu lalu kami guru-guru di Merangin memprotes anggaran pendidikan ke DPRD. Sudah seyogianya para wakil rakyat sedikit menolah ke dunia pendidikan karena, memang banyak hal yang perlu mendapat alokasi anggaran memadai. Jika anggaran pendidikan dinaikkan, kami beraharap agar DPRD dan Pemerintah Kabupaten Merangin mau mengalokasikan anggaran untuk menambah honor para guru honorer di daerah ini,” kata Siti.  

Data Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Kabupaten Merangin, pada saat ini jumlah guru honor di daerah ini tercatat 809 orang. Mereka adalah para guru honor yang dibiayai komite dengan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Padahal, selain guru honor komite, di Merangin juga masih banyak guru honor yang dibiayai sendiri dengan iuran orang tua murid. 

Agar beban para orang tua lebih ringan, sepantasnya ada insentif untuk tambahan honor dari Pemkab Merangin. Akan tetapi, dalam praktik keuangan daerah pemkab tidak bisa mengucurkan begitu saja untuk honor para guru. Sebab, pihak DPRD lah yang dari awal bisa mengetok palu untuk pengalokasian anggaran insentif para guru tersebut.

“Guru honor yang digaji swadaya oleh orang tua di Merangin masih banyak. Jumlah mereka mungkin mencapai ratusan orang,” kata Muslim, pejabat yang menangani bidang kepegawaian di Dinas Diknas Merangin.

Sekolah rusak

 Tidak hanya persoalan guru honorer yang dibelit honor rendah, problem pendidikan di Merangin juga menyangkut rusaknya sarana dan prasarana khususnya di tingkat SD. Gedung SD yang sebagian merupakan SD Inpres itu, nyaris tidak tersentuh perbaikan sejak era tahun 1980-an. Akibatnya, banyak ruang kelas SD yang tidak layak pakai, atap dan plafond bocor, dinding rubuh, lantai semen yang sudah berubah lantai tanah, sehingga mirip kandang sapi.

 Tengoklah ruang kelas SD Negeri 278 di kota Bangko. Menurut Harun, Kepala SD setempat, semua atap dan plafond kelas bocor sehingga waktu hujan air mengucur ke ruang kelas. Jendela nako sekolah itu, kini hanya menyisakan rangka besi yang sudah karatan. “Kalau hujan deras, murid-murid terpaksa menyeret bangku ke sudut kelas yang masih kering. Jika genangan air sudah parah, pilihannya terpaksa belajar ditunda atau diliburkan,” katanya.

 Beruntung, kata Harun, tahun 2008 ini Pemkab Merangin mengalokasikan dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp 250 juta. Ironisnya, DAK ini yang dialokasikan untuk rehabilitasi fisik bangunan sekolah hanya Rp 110 juta. Sisanya, untuk mebel, perbaikan WC dan dana operasional. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena, alokasi DAK sepenuhnya wewenang kabupaten. Sekolah hanya menerima kendati alokasinya kurang tepat sasaran,” kata Harun.

 Jika ditelusuri sebagian besar ruang kelas SD di Merangin, yang muncul ke permukaan tentu kondisi memprihatinkan. Sebab, SD Negeri 278 yang berada di ibu kota kabupaten dan hanya beberapa ratus meter di belakang Kantor Bupati, Kantor DPRD dan Kantor Dinas Diknas setempat saja sudah begitu parah. Apalagi, SD-SD di pedalaman Merangin yang jauh dari “mata” para pejabat kabupaten setempat.  

 “Gedung dan ruang kelas SMP, SMA dan SMK di Merangin, mungkin jauh lebih baik. Sebab, hampir tiap tahun mendapat alokasi anggaran perbaikan yang lumayan. Tetapi, khusus SD memang sebagiann besar belum tersentuh,” kata M Saman, Kepala Sub Dinas Pendidikan Menengah, Dinas Diknas Merangin.

 Kalau dibedah lebih dalam, persoalan pendidikan di Merangin memang seperti mengurai benang kusut. Lalu kapan kusut dunia pendidikan Merangin ini bisa diselesaikan? Aksi protes, unjuk rasa dan aksi mogok mengajar sekitar 6.200 guru di Merangin mungkin cukup tepat untuk menjawab potret buram pendidikan di daerah itu. (AHMAD ZULKANI)

Ke Bangko, Mampirlah di Restoran Kereta Api Koim




 ANDA suka berwisata dan bertualang kuliner? Mungkin tidak ada salahnya, datanglah ke kota Bangko, ibu kota Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Di kota kecil yang terletak di pinggir jalan nasional lintas tengah (Jalinteng) Sumatera, sekitar 300 km barat Kota Jambi ini, ada sebuah restoran unik. Namanya, restoran Kereta Api Koim. Petualang wisata kuliner, akan terkagum-kagum dengan suasana yang kami suguhkan,” kata A Rohim, pemilik restoran itu dengan nada promosi.

 Apanya yang unik di restoran ini? Barangkali belum banyak yang tahu. Sesuai namanya, restoran Kereta Api Koim ini memang dirancang persis layaknya sebuah tempat makan di sebuah stasiun kereta api. 

 Ada “loko uap” tua, seperti lokomotif uap era abad ke 18 yang bertengger di rel sepanjang sekitar 50 meter. Satu rangkaian dengan loko ini, ada dua “kereta restorasi” yang di dalamnya ditata meja makan pesis di restorasi kereta api. Uniknya lagi, ruang masinis kereta ini memang bukan tempat duduk masinis, tetapi disulap menjadi ruang kasir. Di sisi rangkaian “kereta” ini, di bawah bangunan tertutup layaknya sebuah stasiun kereta api, juga ada deretan meja makan.

 Nama restoran Kereta Api Koim, seperti diakui A Rohim sang pemilik, diambil dari nama panggilannya sehari-hari. Koim mengakui, keunikan restoran ini sebetulnya hanya sebuah rekayasa saja. Loko uap tua ini dibuat mirip asli, begitu pula kereta restorasi yang dibuat khusus seperti sungguhan.

 Menurut Koim, pengunjung restoran Kereta Api ini dipersilahkan mau makan di restorasi, di pelataran stasiun atau mau santai di luar peron stasiun yang suasananya cukup nyaman. Apalagi di depan mata sembari menikmati makanan dan minuman, dengan panorama alam aliran dua sungai besar yakni Muara Mesumai dan Sungai Merangin. Dari restoran, juga bisa dinikmati pemandangan dua jembatan gantung yang membentang Muara Mesumai dan Sungai Merangin.

Paling tidak, suasana yang disuguhkan restoran Kereta Api Koim ini akan membuat anda sedikit santai melepas kepenatan, setelah mengemudi jarak jauh misalnya dari Jakarta, Lampung atau pun dari Padang, Medan dan kota lain. Letak restoran ini cukup strategis di kawasan Ujung Tanjung, persis di pinggiran pertemuan dua sungai, yaitu Muara Mesumai dan Sungai Merangin. Posisi restoran hanya sekitar 300 meter di sisi barat jalinteng yang membelah kota Bangko. Restoran ini dibuka mulai pukul 07.00 pagi hingga pukul 23.00 malam. 

Menu restoran Kereta Api Koim ini, sangat beragam. Mulai dari hidangan khas Jambi dan Palembang seperti sambal tempoyak, pempek, pindang patin dan belida. Juga ada menu umum lain seperti nasi goreng, makanan laut misalnya cumi, udang lobster, kerang yang bisa disuguhkan sesuai pesanan. Ada pula berbagai masakan ikan mulai bakar laut, ikan sungai dan ikan budi daya lainnya. 

“Ada 28 jenis makanan dan 32 jenis minuman yang kita siapkan setiap hari. Semuanya tergantung pesanan karena, juru masak restoran Kereta Api sudah cukup berpengalaman,” tutur Koim yang mengaku semua masakan di restoran khas itu ia awasi langsung bersama Dian Fitriana, isterinya.

“Agar menu tidak monoton supaya ada variasi, saya selalu mengunjungi tempat-tempat makan dan restoran yang ramai pengunjung. Petualangan mencari menu baru ini kerap kali saya lakukan ke Jambi, Palembang dan kota-kota lain. Saya sangat memahami, pengunjung ke sini pasti mereka yang sudah pengalaman jajan dan makan di mana-mana. Oleh karena itu, menunya sedapat mungkin komplit,” katanya menambahkan.

Koim mengakui, harga makanan dan minuman di restoran Kereta Api ini dijamin terjangkau siapa saja. Mulai dari anak sekolah, sopir, sampai para pegawai dan orang-orang yang terbiasa makan di tempat mahal. Harga makanan bervariasi, mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 20.000 per porsi tergantung jenis pesanan. Nasi goreng, kata dia hanya Rp 5.000 per porsi. Padahal, di kaki lima yang dijual pedagang keliling dengan gerobak di Bangko, satu porsi nasi goreng sekarang malah Rp 7.000. 

Pedagang gerobak keliling

 Terjun mengelola restoran, Koim mengaku hanya terbawa nasib baik saja. Awalnya, lelaki kelahiran Palembang 17 November 1965 itu sudah malang melintang bekerja di mana-mana. Setelah jadi sopir truk pengangkut bahan baku sepatu di Cibinong tahun 1990 selama dua tahun, Koim sempat menganggur beberapa lama. Ia bahkan, terpaksa menumpang hidup dengan kakaknya di Bangko yang kebetulan membuka sebuah warung menjual makanan khas Palembang.

 Ayah tiga putera ini mengaku, selama membantu kakaknya jualan ia kerap “mencuri-curi” lihat cara membuat pempek, tek wan, model, memasak pindang dan lain-lain. Dari mengintip cara memasak pempek itulah, ia coba-coba membuat sendiri dengan modal seadanya. Menanggur dan menumpang lama-lama, tentu tidaklah enak. Apalagi, Koim sudah punya tanggungan isteri dan anak-anak. 

“Setelah mendapat bantuan modal, saya pun nekad jualan pempek kaki lima dengan gerobak keliling persis di pinggir jalan lintas sumatera di kota Bangko. Mungkin karena nasib baik, pempeknya lumayan laku. Kerja sebagai pedagang gerobak ini saya lakoni bersama isteri dan anak-anak. Saya bukanlah type orang bak pepatah lupa kacang dengan kulitnya. Basis saya adalah pedagang kaki lima. Karena itu walaupun saya kini sudah dianggap orang Bangko pengusaha restoran, saya masih tetap mengelola gerobak pempek di kaki lima. Tetapi, sekarang menjalankan sehari-hari anak buah,” ujarnya.

Koim pun mengakui, bahwa ia tidak bisa melupakan jasa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin yang memberi peluang untuk maju seperti sekarang. Sebab, kata dia, restoran Kereta Api di Ujung Tanjung yang dikelola saat ini, sebetulnya dibuat pemkab setempat. Hanya saja, “Kereta Api” tua ini sempat beberapa tahun menganggur, ditelantarkan karena waktu itu pengunjungnya sepi. 

Pada bulan Mei 2004, ia ditawari Pemkab Merangin mengelola restoran itu dan Koim pun lantas mengganti nama dengan restoran Kereta Api Koim. Tahun-tahun pertama, ia mengaku hampir saja frustasi karena restoran tetap sepi pengunjung. Waktu itu, yang datang hanya satu-dua orang, itu pun tidak tiap hari. 

Kata Koim, ternyata memang ada yang salah. Rupanya, menu yang dibuat dengan istilah keren bahasa asing membuat image mewah, sehingga masyarakat takut mampir ke sini. “Logikanya sederhana sekali. Saya ganti semua nama menu, tidak ada lagi istilah sea food, burger, juice. Yang ada, udang goreng, cumi goreng tepung, tempoyak, nasi goreng, kerang rebus, pindang, roti bakar, jeruk peras. Ternyata kiat itu mengena, buktinya sekarang restoran Kereta Api dikunjungi semua kalangan mulai anak sekolah, sopir, hingga pejabat dan pengusaha”.

Ditanya omsetnya dalam sehari, Koim hanya diam. Sambil menghela nafas, ia hanya menjawab: “pokoknya saya sekarang bisa makan dan hidup dengan isteri dan anak-anak,” ujarnya.

Dianggap warga Bangko ia salah satu pengelola restoran yang sukses, ternyata tidak mengubah penampilan keseharian Koim. Ia tetap bersandal karet, dengan baju kaus sederhana dan naik motor ke mana-mana. “Saya ini bukan pengusaha restoran, tetapi masih pedagang kaki lima dengan gerobak keliling,” kata Koim. Padahal, untuk mengelola restoran Kereta Api Koim ini, ia sudah mempekerjakan 15 karyawan tetap.

Anda mau menikmati makan di atas kereta dengan loko uap tua? Tentu restoran Kereta Api Koim di Ujung Tanjung, Muara Mesumai, Bangko tempatnya… (AHMAD ZULKANI) 

Jumat, 30 Januari 2009

LEBIH SETAHUN DI TENDA BERSAMA TEROR TSUNAMI




NYONYA MARDUANI (38), dengan penuh kasih sayang tampak terus saja menggerakkan ayunan bayi yang terbuat dari selembar kain jarit. Bayi perempuan yang baru berusia sebulan dan belum punya nama itu, terlihat tertidur pulas.
Panas terik dan sumpek di dapur sempit tempat ayunan bayi tradisional lazimnya yang dibuat keluarga di kampung-kampung itu, makin terasa sesak karena dinding dan atap rumah warga Desa Pauh Terenja, Kabupaten Mukomuko itu, terbuat dari seng bekas. Sesekali, Marduani tampak mengipas bayi mungilnya yang masih merah dan mulai berkeringat. Seolah tidak perduli dengan lingkungan yang sumpek panas itu, si bayi tetap tak bergerak, tidur dengan nyenyak.
Desa Pauh Terenja, Kabupaten Mukomuko, terletak sekitar 265 km utara Kota Bengkulu, ibukota Provinsi Bengkulu. Desa ini bersama puluhan desa lain di Mukomuko, dikategorikan paling parah terkena dampak gempa tektonik akhir-akhir ini, termasuk gempa berkekuatan 7,3 SR pada tahun 2007. Ratusan rumah warga dan fasilitas publik seperti gedung sekolah di Desa Pauh Terenja dikategorikan rusak berat dan hancur pascagempa.
“Sudah lebih setahun saya, suami dan empat anak hidup di bedengan ini. Bayi perempuan saya ini pun lahir di lantai tanah beralaskan selembar plastik di bedengan ini. Kalau kami punya uang, mungkin sudah lama bisa mendirikan rumah kembali walaupun hanya rumah kayu. Tetapi karena tidak punya apa-apa dan hanya mengandalkan hidup dari panen jagung dan buruh tani, kami terpaksa menikmati saja walaupun sudah sangat tersiksa,” tutur Marduani dengan nada terbata-bata.
Ia mengakui, selama menunggu panen jagung, suaminya kini terpaksa memburuh di kebun orang. Kalau beruntung dapat kerjaan, suaminya bisa membawa pulang upah paling banter Rp 15.000 sehari. “Inilah penyambung hidup sekeluarga, sejak gempa merubuhkan rumah semi permanent milik kami pada 12 September 2007. Dua bulan pertama pascagempa tahun lalu, kami memang sempat menerima bantuan bahan makanan, beras 20 kg dan jatah hidup sebanyak Rp 400.000. Kini, setelah lebih setahun rasanya hidup ini semakin kabur. Esok pagi, entah makan apa anak-anak saya lagi,” kata Marduani, sembari menatap bayinya yang lelap di ayunan kain jarit.
Marduani memang tidak sendirian. Di deretan rumahnya di Desa Pauh Terenja, sekitar 3 km dari Kantor Bupati Mukomuko, juga ada Basril (48), Dasminah (50), dan puluhan warga lain yang mengalami nasib sama. Hidup di bawah tenda plastic, di bedeng sumpek berdinding terpal bekas yang bolong-bolong dengan semburan angin pantai yang menusuk tulang di malam hari berbulan-bulan, sepertinya sudah menjadi santapan sehari-hari sejak gempa meluluh luntakkan ribuan rumah warga Mukomuko.
Bahkan, jika merujuk data posko Satuan pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Kabupaten Mukomuko, tercatat 1.430 unit rumah warga yang rusak berat – sebagian besar dalam kondisi roboh rata tanah – akibat guncangan gempa tahun 2007. Itu artinya, ada sekitar 1.430 keluarga pula yang kini hidup sebagai pengungsi di puing-puing reruntuhan rumah sendiri walaupun pascagempa sudah berlalu lebih setahun.
Menurut Basril, derita warga memang tidak pernah hilang. Bayangkan saja, kendati sudah hampir menginjak dua tahun sampai sekarang derita, trauma dan ketakutan warga setempat masih saja sulit dienyahkan. Harap maklum, gempa bumi memang selalu menggoyang tanah dan daratan Mukomuko seolah tanpa henti.
Karena itu, warga Mukomuko terutama mereka yang bermukim di bibir pantai selalu hidup di tenda bersama teror gempa dan tsunami. Hidup di daerah bencana, seperti memang sebuahg nasib yang terlalu sulit dielakkan. Walaupun demikian, beruntung mereka tinggal di bawah tenda plastic, sehingga tidak ada reruntuhan bangunan baru yang menimpa.
“Hidup di bawah terpal plastik ketika musim gempa yang terus mengguncang bumi Mukomuko seperti sekarang, ternyata ada hikmahnya. Saya sekeluarga tidak perlu lagi lari ke luar karena, tidak bakal ada yang roboh. Buktinya ketika gempa mengguncang dua hari lalu, kami tenang-tenang saja di sini,” kata Basril.
Kondisi yang juga teramat menyiksa pun dialami Dasminah. Pasangan petani ini mengakui, rumah semi permanen dengan tiga kamar miliknya, memang sudah rata tanah karena diguncang gempa tahun lalu. “Semuanya rata dan lenyap seketika. Yang tersisa itu hanya sebuah wc dan sumur di bagian belakang,” ujarnya menambahkan.
Dia pun mengakui, sekarang jangankan untuk membangun kembali pengganti rumah yang roboh, untuk makan saja harus ngutang dulu sambil menunggu panen jagung. Tidak itu saja, agar anak-anaknya tidak sakit Dasminah sudah enam bulan ini terpaksa menitip tidur di rumah tetangga.
“Kalau kami ya, harus bisa menikmati hidup di bawah terpal ini berbulan-bulan karena kalau ikut menumpang di rumah tetangga sudah pasti memberatkan. Namun kalau hujan deras karena atap plastic bocor, dengan berat hari kami pun ikut mengungsi tidur di rumah sebelah yang masih utuh,” kata Dasminah.
Menunggu janji pemerintah
TETAPI, betahkah Basril, Dasminah, Marduani dan ribuan korban gempa di Mukomuko untuk terus bertahan di bawah terpal plastic dan bangunan darurat? Kalau dibilang tidak betah, buktinya mereka ternyata masih bertahan di situ sampai sekarang. Tetapi, setelah ditelusuri persoalannya bukan karena kerasan, namun semata-mata akibat keterpaksaan. Mereka memang tidak punya uang lebih dan kemampuan untuk membangun kembali rumah mereka karena, sebagian besar warga yang jadi korban gempa di Mukomuko adalah keluarga miskin yang selama ini hidup pas-pasan.
Oleh karena itulah, ketika gempa masih terus mengguncang Mukomuko, satu-satunya harapan warga adalah dikucurkannya segera dana perbaikan dan pembangunan kembali (dana recovery) seperti yang dijanjikan pemerintah pusat sejak pascagempa. Dana itu besarnya bervariasi, mulai dari Rp 5 juta untuk yang rusak ringan hingga Rp 15 juta bagi bangunan yang roboh.
“Nasib kami sekarang mungkin mirip pungguk merindukan bulan. Entah kapan dana bantuan yang dijanjikan pemerintah itu cair. Padahal, sudah sejak lama warga korban gempa disuruh membuka rekening di bank. Kami tidak habis pikir, koq tega-teganya mengumbar janji dan kemudian malah membiarkan rakyat hidup menderita di bawah-bawah tenda plastic yang sudah bocor,” tutur Basril.
Menurut Basril dan Dasminah, seandainya warga mampu dan punya uang untuk mendirikan rumah yang roboh, sudah pasti mereka tidak akan mengemis seperti sekarang. “Dan lagi, yang kami tagih itu sesuatu yang pernah dijanjikan. Barangkali, jika dana perbaikan dikucurkan mungkin trauma gempa dan tsunami sedikit demi sedikit akan hilang dari ingatan. Tidak seperti sekarang, mimpi buruk itu masih terlihat di depan mata karena puing reruntuhan rumah masih bertebaran. Dalam situasi seperti itu, gempa pun kini terus mengguncang bertubi-tubi,” ujarnya.
Bupati Mukomuko Ichwan Yunus yang ditemui di Mukomuko beberapa waktu lalu, menyatakan, Satlak PBP daerah ini memang telah menerima kucuran dana perbaikan rumah warga sebesar Rp 21,7 miliar. Bantuan tahap pertama untuk pembangunan kembali rumah para korban gempa itu memang terlambat sampai di kabupaten karena, sempat mengendap beberapa lama di Pemprov Bengkulu.
“Secepatnya, bantuan pusat itu akan segera dibagikan. Apalagi, para korban gempa yang berhak semuanya memang sudah memiliki rekening di bank,” katanya.
Ketika setiap kali bencana terjadi di Tanah Air kita, termasuk pascagempa di Mukomuko, soal bantuan memang selalu menuai masalah. Padahal, itu semua sebetulnya terkait erat dengan rasa, empati dan nurani. Bagaimana pun juga, kucuran bantuan kemanusiaan tersebut paling tidak bisa sedikit mengobati trauma warga Mukomuko yang hingga masih saja dihantui teror gempa dan tsunami.
AHMAD ZULKANI